Open Source sederhananya adalah tentang sebuah program yang sumbernya terbuka. Namun Open Source tidak sesederhana itu, ada ideologi; Prinsip, filosofi, dan nilai yang terkandung didalamnya.

Open Source biasanya adalah tentang peranti lunak, dari yang paling dasar seperti sistem operasi, sampai ke yang paling "atas" seperti program-program yang biasa kamu gunakan sehari-hari. Disini kita akan mengkategorikan 2 pengguna open source: Sebagai pengguna "biasa" & sebagai pengguna "super".

Gue sangat tertarik dengan topik Open Source namun bukan dari sisi bisnis, melainkan dari sisi nilai; Moral, dan filosofinya. Sebelum kita menyelam lebih jauh, gue akan mencoba berbagi pemikiran tentang "apa pentingnya Open Source at least untuk hidup gue?", yang akan gue coba menggunakan sudut pandang berbeda.

Dunia tanpa Open Source

Bayangkan dunia tanpa Open Source, alias, open source tidak pernah ada di bumi ini. Sistem operasi mungkin hanya 1: Windows. Karena Mac OS pun bergantung dengan Unix.

Windows adalah sistem operasi yang umum digunakan, entah sudah pada mengetahui atau belum, Windows adalah sistem operasi yang tidak gratis. Untuk Windows 10 Home sendiri seharga Rp 2.599.999. belum ditambah program-program yang sering digunakan di Windows seperti Microsoft Office yang untuk lisensi Office 365 Personal sendiri seharga Rp 879.999 per-tahun.

Mengapa berbayar? Karena didunia ini tidak ada yang gratis! Microsoft adalah perusahaan-untuk-profit, dan agar profit mereka harus "menjual" sesuatu, yang dalam konteks disini adalah Software. Ya, Microsoft adalah perusahaan peranti lunak. Dari membuat sistem operasi, aplikasi perkantoran, sampai ke mesin penelusuran.

Microsoft Office—salah satunya—menjadi "udara" kita sehari-hari. Kita akan selalu berurusan dengan itu, karena hampir administrasi sekarang bergantung dengan itu. Tidak ada mesin tik, tidak ada buku fisik keuangan, tidak ada presentasi yang tidak menggunakan slide. Semuanya bergantung dengan Microsoft Office.

Yang artinya, kita tidak bisa hidup tanpa itu. Yang berarti, kita harus membayar 879,999 per-tahun ke Microsoft. Microsoft Office bukanlah menjadi seperti "udara", melainkan seperti "listrik". Kita harus membayar sekian rupiah per-bulan ke PLN agar bisa hidup dengan listrik, beda dengan udara yang bisa kita konsumsi secara gratis.

Setidaknya sampai hari ini.

Kembali ke topik, apa yang bisa kita lakukan selain membayar Microsoft? Karena, well, sistem operasi yang ada hanyalah Windows? Kamu bisa saja menjawab pertanyaan tersebut dengan melakukan "pembajakan", tapi pembajakan bukanlah sesuatu yang baik. Selain karena masalah moral, juga kamu bisa dituntut secara hukum kapan saja karena melakukan hal yang "ilegal".

Lalu apa yang bisa kita lakukan? Membuat sistem operasi "sendiri" adalah hal yang sangat sulit, dan kita bukanlah Microsoft yang memiliki banyak orang-orang pintar. Mungkin bisa saja kita menyerah dan memilih untuk membayar mereka, namun tidak untuk orang-orang hebat ini.

UNIX

Unix adalah sistem operasi minimal yang dibuat oleh orang-orang hebat dari Bell Labs. Meskipun UNIX juga tidak Open Source, namun dari sistem operasi inilah sistem operasi lain yang mirip/berdasarkan UNIX hadir. Yakni BSD dan Linux.

Kita tidak sedang kuliah sejarah komputer, mari kita persingkat langsung membahas ke Linux. Linux merupakan kernel sistem operasi yang di inisiasi oleh satu orang jenius bernama Linus Torvalds. Linux adalah program Open Source, yang mana semua orang bisa melihat kodenya; Mendistribusi, dan menggunakan hasil programnya secara bebas.

Dari Linux, muncul lah berbagai sistem operasi baru seperti Debian, Ubuntu, dsb. Torvalds memulai Linux ketika dia penasaran dengan sistem operasi, dan karena frustasi dengan lisensi MINIX, dia membuat kernel sistem operasi dia sendiri yang sekarang terkenal dengan nama Linux Kernel.

Kembali ke topik, berkat Linux, pilihan sistem operasi menjadi beragam, dan memiliki lisensi yang mengikuti atasannya. Yang jelas, sistem operasi ini bebas digunakan & didistribusi ulang, serta tidak perlu membayar sepeserpun untuk bisa menggunakannya.

Kita tidak akan membahas seputar ekonomi di open source, jadi, mari kita abaikan pertanyaan seputar "ekonomi" untuk gratis tersebut.

Gue menggunakan kata Linux karena orang-orang lebih familiar dengan itu daripada GNU/Linux. Yang singkatnya, GNU adalah "sistem operasi" dan "Linux" adalah kernel nya. Silahkan pelajari lebih lengkap seputar itu karena kita sedang tidak kuliah ilmu komputer.

Free Software

Misi FSF (pembuat GNU) adalah membuat sistem operasi yang "free". FSF adalah kumpulan orang-orang jenius yang ahli di bidangnya. Bisa saja mereka membuat sistem operasi GNU menjadi saingannya Microsoft namun dengan harga yang lebih murah dan fitur yang lebih handal, namun mereka tidak melakukannya.

Mereka membuat sistem operasi mereka bebas digunakan, bebas didistribusi, dan bebas dimodifikasi oleh siapapun sehingga kamu tidak perlu membayar sepeserpun uang hanya untuk menggunakan komputer, dan tidak perlu takut akan dituntut ke hukum.

Mereka memiliki visi, misi, dan prinsip. Mereka ingin (dan sudah!) menjadi manusia yang baik kepada manusia lain. Sebagai tegasan, "gratis" disini tidak selalu mengarah ke "uang", melainkan ke "kebebasan". Sama seperti "bebas" di "bebas bicara", namun terkadang untuk bisa berbicara, kamu harus mengeluarkan uang, bukan?

Dunia dengan Open Source

Lihat, berkat UNIX terciptalah BSD & Linux. Mac OS adalah sistem operasi yang berdasarkan BSD, meskipun closed source, namun komponen-komponen Mac OS menggunakan kode Open Source.

Kamu tidak perlu membayar sepeserpun untuk menggunakan Mac OS, namun, untuk bisa menggunakan Mac OS, legalnya, kamu harus menggunakan perangkat yang dibuat oleh Apple. Ya, Apple adalah perusahaan peranti keras, mereka profit dari menjual hardware, bukan software.

Sekali kamu membeli produk Apple, maka Mac OS tersebut sudah milikmu. Kamu bebas melakukan apapun terhadap Mac OS (karena itu sudah milikmu), asal jangan berurusan dengan hardware nya itu sendiri (Macbook, iMac, dsb).

Karena bukan perusahaan peranti lunak, Apple memberikan aplikasi-aplikasi untuk keseharian & keperluan kantormu secara gratis. Dari Pages, Keynote, Numbers, dsb.

Kembali ke topik, bagaimana bila kita tidak menggunakan hardware dari Apple namun tetap ingin menggunakan program-program tersebut secara gratis? Ada alternativenya, thanks to Open Source!

Program-program seperti LibreOffice, Inkscape, Gimp, dsb bisa digunakan secara bebas untuk memenuhi kebutuhanmu tanpa uang yang harus dibayar per-bulan. Karena sekali kamu memasang program tersebut, maka program tersebut menjadi milikmu.

Open Source di Indonesia

Sudah banyak pemain Open Source yang ada di Indonesia, yang paling gue rasakan adalah BlankOn, TeaLinux OS (DOSCOM), dan IGOS Nusantara. Mereka pemain di sistem operasi, yang memiliki keunggulan tersendiri.

Secara pribadi gue pernah menggunakan BlankOn di Thinkpad, dan pengalamannya sangat memuaskan. Fungsi-fungsi berjalan normal, tampilan yang cantik & mudah, serta memenuhi kebutuhan gue sehari-hari sebagai manusia.

Kalau enggak menggunakan Mac, pilihan gue selalu ke Linux, yakni Elementary OS. Mungkin dikesempatan selanjutnya akan menggunakan BlankOn dan mencoba mempromosikannya.

Kembali ke topik, untuk saat ini di Indonesia adopsi Open Source sudah sangat lumayan banyak, namun lebih di fase "pengguna" belum ke fase "pemain". Ada waktunya kita bisa ke fase tersebut.

Institusi sudah banyak menggunakan sistem operasi linux untuk proses belajar-mengajar, perusahaan-perusahaan IT sudah banyak yang bergantung dengan program Open Source dari database sampai ke sistem operasi yang digunakan di server.

Meskipun masih sebagai pengguna, namun kita sudah mulai sadar tentang "pentingnya" Open Source selain dari sisi bisnis & ekonominya. Open Source adalah tentang kebebasan, tentang ideologi, tentang filosofi, tentang kita sebagai manusia. Sebagai pengguna saja berarti kita sudah menaiki satu tangga, dan tinggal menaiki tangga-tangga selanjutnya.

Banyak yang diuntungkan dari Open Source, dari sisi bisnis mungkin tidak perlu membayar sekian puluh juta untuk lisensi, dari sisi personal tidak perlu membayar lisensi ataupun melakukan pembajakan, dari sisi yang lebih dasar, tidak ada yang disembunyikan. Semua transparan.

Kita tau apa yang dilakukan Ubuntu karena kita bisa melihat sumber kodenya (yang mungkin kita tidak mengerti), namun apa yang dilakukan Windows dibalik layar?

Enggak ada yang tau, karena tidak ada yang bisa melihat sumber kodenya, bukan? Dan meskipun kita tidak mengerti dengan sumber kode untuk Ubuntu misalnya, setidaknya sumber mereka terbuka. Dan ada orang-orang jenius lainnya yang mengaudit sumber kode tersebut.

Kesimpulan

Untuk "pengguna super", mungkin kamu sudah biasa menggunakan produk-produk open source. Dari database, code editor, web server, sampai bahasa program. Beda dengan pengguna biasa (yang menggunakan komputer untuk hal-hal "biasa"), mungkin masih banyak yang menggunakan Microsoft Office, Photoshop, Illustrator, dsb.

Tidak ada yang salah, yang jadi pertanyaan:

  • Itu program asli atau... Hasil crack?
  • Masalah enggak bayar sekian per-periode?
  • Nyaman enggak menggunakan program tersebut dengan kondisi tersebut?

Bagaimana jika ada alternatif lain? Yang bebas untuk digunakan? Yang sumber kodenya bisa dilihat oleh siapapun? Yang hmm.. gratis?

Pertumbuhan teknologi informasi di Indonesia pun semakin pesat, sudah banyak bisnis yang melakukan "digitalisasi" terhadap bisnis mereka sebelumnya, ataupun mencoba membuat bisnis baru di dunia teknologi.

Begitupula dengan kebutuhan pribadi, hampir kehidupan kita sehari-hari berurusan dengan teknologi. Dari sosial media, aplikasi pesan instan, sampai email.

Yang berarti, menjadi kesempatan untuk developer-developer lain untuk membuat bisnis baru berbasis software, yang berarti juga menjadi kesempatan untuk developer-developer lain untuk membuat software yang open source.

Ambil contoh, MokaPOS. MokaPOS adalah aplikasi perkasiran berbasis cloud dengan harga hanya sekitar 299,000/bulan. Kamu tidak perlu memikirkan infrastruktur, kode, dan lain sebagainya. Yang kamu butuhkan hanya 1: Bayar per-bulan. Dan silahkan fokus ke bisnis kamu.

Sebelumnya tidak ada aplikasi seperti MokaPOS di Indonesia, kasir masih bergantung dengan mesin yang harganya enggak tau berapa, yang kalau mati listrik, mesin tersebut tidak bisa ber-operasi. Bedanya, dengan mesin kasir kamu cuma sekali beli. Tidak ada bayar per-bulan karena kamu membeli bukan menyewa.

Ada masalah?

Sekilas tidak, sampai masalah tersebut terjadi. Karena kamu menyewa, kamu 100% bergantung dengan layanan mereka. Tidak ada yang tau sampai kapan bisnis tersebut berjalan, dan karena kamu 100% bergantung dengan layanan mereka, maka kamu harus menerima kondisi ketika bisnis mereka sudah tidak ber-operasi.

Yang artinya, kamu tidak bisa menggunakan layanan mereka lagi.

Yang biasanya, kamu tetap akan diberikan data-data "milikmu" yang sudah kamu gunakan di MokaPOS tersebut, namun hanya sekedar data. Beruntung jika diberi alternatif lain yang mendukung "format" data tersebut–sehingga kamu bisa mudah melakukan migrasi–namun, jika tidak?

Terlebih, software mereka sumber kodenya tidak open source. Hanya mereka yang bisa melakukan operasional software tersebut, karena itu milik mereka dan kamu hanya menyewa.

Sekarang bayangkan ada alternatif lain, misal HazelPOS. Software tersebut open source, kamu bisa menggunakannya sesuka hatimu. HazelPOS menyediakan layanan cloud juga, misal biayanya 299,000/bulan juga. Hampir sama seperti MokaPOS, namun bedanya, software mereka sumbernya bisa diakses oleh siapapun.

Yang artinya, biaya 299rb/bulan tersebut untuk membayar "sewa infrastruktur", bukan sewa softwarenya. Kamu bisa saja menggunakan infra 99rb/bulan (hemat 200rb/bulan!), namun kamu harus berurusan dengan security; reliabilitas, dan hal-hal lain terkait operasional infra.

Daripada berurusan dengan itu, mending kamu bayar 299rb/bulan, kan? Atau setidaknya hire developer yang mengerti seputar HazelPOS namun memberikan dampak yang berbeda. Yang singkatnya, dengan membayar 299rb/bulan untuk infra, kamu sudah ikut andil membantu mereka dalam mengembangkan software open source tersebut. Beda bila dengan hire developer.

Yang intinya, meskipun suatu saat nanti HazelPOS sudah berhenti ber-operasi, namun kamu tetap bisa menggunakan software HazelPOS tersebut karena sumbernya terbuka. Dan biasanya, kamu akan dibantu untuk melakukan migrasi, sebagai bentuk "terima kasih" karena telah menggunakan layanan mereka.

Yang berhenti ber-operasi itu "layanan infra HazelPOS" nya, bukan "keseluruhan" nya jika memang HazelPOS menawarkan layanan cloud juga.

Our effort

Kami baru memulai, dan sedang berada ditahap riset & advokasi. Untuk sekarang, kami difase riset seputar adopsi open source & melakukan advokasi untuk itu. Kami fokus di teknologi web modern, karena sekarang aplikasi-aplikasi banyak dibuat diatas teknologi web.

Sudah banyak aplikasi-aplikasi berbasis web yang open source & memenuhi kebutuhan sehari-hari, dari penggunaan pribadi seperti ownCloud sampai ke bisnis seperti Odoo.

Usaha kami, dengan membantu membangun ekosistem dan komunitas open source di Indonesia. Membantu adopsi open source di Indonesia. Membantu developers lain dalam membangun, menggunakan dan mengembangkan produk-produk yang open source.

Untuk menempuh perjalan sejauh 1337km, kita pasti akan melewati 1km terlebih dahulu.

Dan sekarang kita sedang berada di 1KM.

Menuju Indonesia yang lebih baik, terbuka dan transparan dengan teknologi.

Hatur nuhun.

Diskusi disini.