Oh, halo!

Tulisan ini cukup panjang, jika anda tidak memiliki waktu untuk membaca keseluruhan tulisan ini, garis besar dari tulisan ini adalah:

Perubahan terbaru kebijakan privasi terkait penggunaan layanan WhatsApp adalah pengguna diwajibkan untuk menyetujui bahwa beberapa data yang ada di WhatsApp pengguna dibagikan dengan Facebook sebagai perusahaan induk dari WhatsApp.

Jika tidak menyetujui, pengguna dapat (harus) menghapus akun WhatsApp.

Dan sebagai alternatif jika anda tidak setuju beberapa data di WhatsApp anda dibagikan dengan Facebook, anda dapat menggunakan aplikasi Signal yang mana menawarkan fitur yang hampir sama, namun dioperasikan oleh perusahaan nirlaba; memiliki sumber kode yang terbuka, dan direkomendasikan oleh beberapa penggiat privasi dan keamanan terkait di dunia digital. Unduh disini.

Jika ingin mengetahui detailnya, bisa lanjutkan membaca tulisan ini. Estimasinya hanya menghabiskan waktu sekitar 13 menit!


Mungkin anda berada disini karena berdasarkan rekomendasi kerabat, atau mungkin karena berlangganan RSS dari blog ini. Apapun alasannya, disini kami akan coba menjelaskan tentang mengapa pembahasan ini penting berikut dengan rekomendasi akan tindakan yang dapat anda lakukan.

Demi hidup yang lebih baik lagi.

Sudah dipastikan anda menggunakan WhatsApp untuk berkomunikasi sehari-hari, baik dengan keluarga; kerabat, guru, dan perihal urusan kantor juga. WhatsApp adalah aplikasi perpesanan instan yang ditawarkan oleh Facebook yang mana sudah memiliki jumlah pengguna lebih dari 2 milyar.

WhatsApp menawarkan fitur-fitur yang lengkap untuk sebuah aplikasi perpesanan, dari mengirim & menerima berkas media; dokumen, kontak, dan masih banyak lagi seperti panggilan video dan suara.

Oh iya, sudahkah kami bilang bahwa layanan WhatsApp ditawarkan secara cuma-cuma alias gratis?

Pada saat WhatsApp awal-awal diluncurkan, pengguna dibebankan biaya $0.99 per-tahun yang mana biaya tersebut dihilangkan setelah diakusisi oleh Facebook.

Ada lebih dari 100 milyar pesan setiap hari yang dikirim/diterima oleh pengguna WhatsApp. Yang pastinya membutuhkan sumber daya yang tidak kecil untuk dapat mengoperasikan layanan pada skala tersebut.

Sedangkan, pengguna WhatsApp tidak membayar sepeserpun rupiah untuk dapat menikmati layanan WhatsApp.

Yang menjadi pertanyaan, bagaimana Facebook sebagai perusahaan induk dapat menutup biaya tersebut sedangkan layanan WhatsApp bersifat gratis disamping itu WhatsApp berjanji bahwa pengguna tidak akan pernah melihat satupun iklan?

There ain't no such thing as a free lunch

Sebagai salah satu entitas yang menjalankan layanan di sebuah jaringan bernama Internet, kami sangat sadar bahwa tidak ada yang gratis untuk menjalankan layanan tersebut.

Ada biaya listrik, internet, komputer, dan alamat situs yang harus kami bayar per-periode.

Yang bahkan, blog sederhana ini saja—yang memiliki pengunjung sekitar 1000 pengunjung berbeda per-bulan—memakan $5 per-bulan untuk dapat ber-operasi.

Sekarang, bagaimana untuk skala sebuah layanan yang dioperasikan oleh Facebook?

Yang memiliki kurang lebih 2 milyar pengguna.

Yang memiliki kurang lebih 5 milyar pesan yang dikirim/diterima kepada pengguna WhatsApp.

WhatsApp hari ini beroperasi dibawah perusahaan Facebook sejak akuisisinya pada tahun 2014 silam, bisa dilihat di aplikasi WhatsApp yang dengan sangat jelas menjelaskan bahwa 'from F A C E B O O K'.

Facebook, Inc adalah perusahaan laba yang bergerak di industri periklanan yang mana layanan utamanya yang diberikan adalah sebuah media sosial bernama Facebook.

Apa produk yang ditawarkan oleh layanan tersebut?

Sebelum kita menjawab pertanyaan tersebut, izinkan kami untuk memberitahu apa yang industri periklanan 'jual' berdasarkan pengetahuan dan pengalaman kami.

Sesuatu tersebut bernama iklan

Hampir disetiap sudut tempat kita melihat iklan. Dari iklan produk terbaru, diskon besar-besaran, sampai ke produk apapun itu yang baru ter-sertifikasi "halal".

Iklan membantu pelaku bisnis dari yang ber-skala kecil, menengah, sampai yang besar sekalipun.

Namun iklan yang kita lihat sehari-hari di sudut tempat kurang efektif. Pemilik bisnis (dan penyedia ruang untuk iklan) relatif sulit untuk mengetahui efektivitas dari iklan tersebut.

Biasanya, penyedia ruang untuk iklan menjanjikan janji manis dengan saran seperti: bila menempatkan iklan di tempat 'yang cukup strategis' maka efektivitas iklan tersebut akan berpeluang semakin besar karena dapat menjangkau pemirsa yang lebih banyak.

Yang bisa dipastikan bahwa produk dari bisnis periklanan tersebut adalah pemirsa.

Yang berarti, semakin banyak pemirsa yang dapat dijangkau, berarti semakin laris produk tersebut (yang dijual oleh penyedia iklan) terjual ke pengiklan (seseorang yang ingin mengiklan).

Dan sayangnya, pemirsa tersebut adalah kita.

Masih tentang Iklan, namun bagaimana bila lebih efektif?

Ketika kita sedang menonton acara di salah satu stasiun televisi, hampir tidak mungkin bila kita tidak melihat sebuah iklan.

Karena, apalagi sumber pendapatan yang menjanjikan dari sebuah stasiun televisi jika bukan iklan?

Stasiun televisi pun berlomba-lomba untuk menawarkan program acara yang memiliki banyak peminat. Program acara tersebut tidak harus menarik, mendidik, apalagi bermanfaat karena bukankah 3 hal tersebut bersifat relatif?

Melainkan, yang banyak peminatnya.

Stasiun televisi harus mengetahui minat dari pemirsa khususnya di negara Indonesia ini.

Semakin banyak yang menonton sebuah program acara, semakin besar pula "rating" dari acara tersebut.

Yang berarti, kemungkinan untuk mendapatkan ruang iklan di stasiun ataupun di salah satu acara tersebut akan menjadi semakin tinggi. Karena sederhana: stasiun televisi ataupun program acara tersebut memiliki pemirsa yang banyak.

Dan banyak/sedikitnya pemirsa dapat diketahui oleh pihak stasiun televisi.

Dan lagi-lagi pemirsa tersebut adalah kita.

Masih tentang Iklan, namun bagaimana bila sangat efektif?

Dari menawarkan ruang iklan di tempat yang 'strategis' sampai ke statisun/acara televisi yang memiliki rating bagus, 2 hal tersebut memiliki satu persamaan: Jumlah pemirsa yang dapat dijangkau.

Bedanya, di opsi kedua memiliki tingkat efektivitas yang lumayan tinggi karena dapat diukur.

Sekarang, bagaimana bila ada penyedia ruang iklan yang menawarkan selain pemirsa yang dapat diukur juga pemirsa yang dapat di segmentasi?

Tentu saja produk baru 'Kopi Susu' dari bisnismu kurang cocok dengan pemirsa yang memiliki rentang umur 30-50 karena relatif dinikmati oleh yang berumur 19-30.

Terlebih, produkmu baru tersedia di pulau Jawa yang singkatnya kurang cocok bila ditawarkan ke masyarakat yang berada di luar pulau Jawa karena alasan biaya dan lain-lain.

Lalu, ada sebuah layanan yang dapat mengiklankan produk anda tersebut ke pemirsa dengan kriteria berikut:

  • Ber-umur 19-30
  • Tinggal di pulau Jawa
  • Memiliki minat terhadap kopi
  • Senang nongkrong
  • Sering pergi ke toko yang menjual kopi
  • Target yang ingin dijangkau: 1000 pemirsa

Tentu akan terlihat sangat efektif karena ter-segmentasi, kan?

Dan kabar baiknya juga, anggaran dapat disesuaikan!

Jika anggaran untuk pemasaran melalui media iklan yang dimiliki oleh bisnismu hanya 1,000,000 rupiah per-bulan, penyedia iklan dapat menyesuaikannya tanpa mengubah kriteria yang anda inginkan!

Biasanya hanya berpengaruh terhadap frekuensi tampilnya atau ketika target yang diinginkan tercapai (misal 1000 pemirsa sudah melakukan "aksi" terhadap iklan tersebut).

Efektivitas untuk pemasaran melalui media iklan semakin menjanjikan karena penyedia & penyewa iklan dapat mengetahui tindakan yang dilakukan terhadap iklan tersebut!

Jika di sudut tempat dan televisi iklan hanya bisa dilihat (lalu lupakan), di media lain (seperti di sosial media) pemirsa dapat berinteraksi dengan iklan tersebut!

Sangat menjanjikan, bukan?

Dan lagi-lagi pemirsa tersebut adalah kita.

'Kita' hanya sebatas 'data'

Ketika menggunakan layanan seperti Facebook; Twitter, Instagram, Google, dan sebagainya, yang benar-benar dilihat oleh penyedia layanan tersebut adalah satu: Data.

Semakin banyak data yang diberikan, semakin besar pula keuntungan yang dapat mereka raih.

Empat layanan (dan perusahaan) yang disebutkan sebelumnya pada dasarnya adalah entitas yang bergerak di industri periklanan dengan masing-masing layanan yang mereka tawarkan entah itu media sosial ataupun mesin pencari.

Sesuatu yang mereka tawarkan bukanlah produk, karena produk tidak dijual secara cuma-cuma alias gratis. Dan ya, media sosial; mesin pencari, bahkan program/acara yang ada di televisi bukanlah produk yang mereka jual sebagai perusahaan laba.

Lalu, apa produk yang mereka jual?

Pemirsa.

Kepada siapa mereka menjualnya?

Kepada siapapun yang ingin menyewa ruang iklan!

Dan ya, pemirsa tersebut adalah kita.

Kita—sebagai pemirsa—adalah sebuah produk yang menjanjikan untuk mendapatkan keuntungan.

Jika tidak setuju, silahkan lihat daftar orang-orang terkaya di planet versi Forbes, ada di industri apa orang-orang tersebut?

Berbicara tentang data

Ada 2 jenis data yang dapat dikategorikan: Data pribadi dan umum.

Dan ada 3 cara untuk mengumpulkan data tersebut:

  1. Didapat secara sukarela dari 'pengguna'
  2. Didapat secara wajib dari pengguna demi 'keberlangsungan' layanan
  3. Didapat secara 'otomatis' dari perangkat & aktivitas yang dilakukan oleh pengguna

Mari kita ambil kasus WhatsApp, contoh nomor satu ini sederhana: Setiap orang bebas untuk memberikan foto profil ke WhatsApp, dengan catatan agar pengguna tersebut dapat 'lebih mudah dikenal' oleh pengguna lain.

Untuk contoh nomor dua: Nomor telepon. Kita tidak bisa menggunakan WhatsApp tanpa memberikan nomor telepon kita ke pihak WhatsApp, karena WhatsApp menggunakan data tersebut untuk keberlangsungan layanannya.

Untuk contoh nomor tiga ini sedikit teknis dan kurang terlihat: Data-data seperti tipe perangkat, alamat IP, sistem operasi, dan penyedia layanan internet yang digunakan.

Bagaimana membedakan data yang bersifat pribadi dan umum?

Sejujurnya, jika data tersebut sudah 'keluar' dari perangkat kita, data tersebut sudah bukan data pribadi kita lagi. Karena data tersebut sudah dimiliki oleh penyedia layanan.

Dalam konteks WhatsApp, layanan tersebut memiliki 'Pengaturan Privasi' yang dapat menentukan data apa saja yang anda rasa pribadi, 'eksklusif', dan publik.

Seperti, jika anda tidak ingin memperlihatkan foto profil kepada siapapun, diasumsikan data tersebut bersifat pribadi, setuju?

Jika anda hanya ingin memperlihatkan foto profil hanya kepada kontak yang anda miliki, berarti data tersebut bersifat eklusif atau terbatas.

Jika anda ingin memperlihatkan foto profil kepada siapapun, dapat diasumsikan data tersebut bersifat umum.

Tapi bagaimanapun, sekali data tersebut keluar dari perangkat kita, data tersebut sudah tidak menjadi data pribadi kita lagi.

Melainkan sudah milik penyedia layanan.

Dan berdasarkan persyaratan layanan ataupun kebijakan privasi yang sudah disetujui, penyedia layanan berhak melakukan apa yang sudah anda setujui.

Yang dipastikan anda menyetujuinya.

Pembaruan kebijakan privasi oleh WhatsApp

Pada bulan Januari 2021 WhatsApp memberikan pemberitahuan kepada penggunanya bahwa WhatsApp memperbarui kebijakan privasi nya, untuk informasi selengkapnya dapat membaca tulisan dari Ars Technica yang berjudul WhatsApp gives users an ultimatum: Share data with Facebook or stop using the app yang singkatnya adalah anda harus setuju bahwa data anda di WhatsApp dibagikan ke perusahaan Facebook, dan jika tidak, maka anda harus berhenti menggunakan layanan yang ditawarkan oleh WhatsApp: Perpesanan.

Yang mana batas akhir dari persetujuan tersebut adalah 8 Februari 2021.

Data yang dibagikan tersebut antara lain:

  • Nomor telepon pengguna
  • Nomor telepon pengguna yang berada di kontak anda
  • Nama profil
  • Foto profil
  • Pesan status (termasuk aktivitas online/daring terakhir)
  • Data diagnostik (poin ketiga di pembahasan sebelumnya)

Anda mungkin tidak peduli dengan itu, dan itulah alasan mengapa kami menerbitkan tulisan ini.

6 data yang disebutkan diatas mungkin tidak bersifat rahasia, dan terlebih bukankah tidak ada yang perlu kita sembunyikan juga terkait data-data tersebut?

Namun poinnya bukan disitu.

Meskipun tidak ada yang perlu disembunyikan terkait data tersebut, bukan berarti data tersebut dapat seenaknya dibagikan.

Analogi sederhana adalah rumah. Tidak ada yang disembunyikan dari isi dan aktivitas yang ada di rumah tersebut. Orang lain mungkin tahu bahwa ketika jam 7 pagi orang-orang di rumah sedang berada di meja makan dan sedang menyantap sarapan.

Bukankah tidak ada yang perlu disembunyikan, bukan?

Lalu mengapa kita menutup pintu?

Bukankah karena kita tidak ingin orang lain mengetahuinya—mungkin informasi terkait siapa saja yang makan, bagaimana cara makannya, makanan apa yang sedang dinikmati, dll—karena alasan... privasi, mungkin?

Dan itulah 'bagian' yang hilang akibat pembaruan kebijakan privasi yang ditawarkan oleh WhatsApp.

Privasi.

Meskipun sedikit lucu ketika membicarakan 'privasi' di dunia internet.

Apa yang kita lakukan di WhatsApp?

Apapun jawabannya, intinya hanyalah satu: Komunikasi.

Pertukaran informasi dari satu pihak ke pihak lain.

Informasi yang ditukarkan tersebut mungkin terkesan sederhana, seperti, dari pertanyaan klasik muda-mudi yang sedang kasmaran yang menanyakan 'udah makan belum?', informasi dari keluarga yang memberitahukan bahwa 'a mamah sama papah lagi ke Bali', sampai informasi yang mungkin bersifat sangat rahasia seperti strategi bisnis perusahaan yang dilakukan oleh para eksekutif.

Atau mungkin, di tingkat pemerintahan juga menggunakan WhatsApp untuk berkomunikasi kesehariannya terkait pekerjaan?

Mungkin saja.

Lalu bagaimana untuk meyakinkan pengguna WhatsApp bahwa alur informasi yang berlangsung di WhatsApp bersifat aman?

End-to-end Encryption!

Semua pesan yang akan dikirim oleh pengguna akan di-enkripsi terlebih dahulu sebelum pesan tersebut keluar dari perangkat pengguna. Dan ketika pesan tersebut sampai ke tujuan, barulah pesan tersebut di-dekripsi oleh si penerima, di perangkat pengguna.

Yang singkatnya, tidak ada yang dapat mengetahui isi pesan tersebut selain 2 pihak yang terkait tersebut, sekalipun WhatsApp.

Teknologi End-to-end Encryption (E2EE) yang digunakan WhatsApp menggunakan protokol bernama Signal Protocol yang dikembangkan oleh Signal, sebuah perusahaan non-profit (501c3).

Signal Protocol bersumber terbuka, siapapun dapat melihat; mempelajari, menganalisa, dan menggunakan teknologi tersebut. Salah satu benefit ketika teknologi bersumber terbuka adalah setiap pihak dapat berkontribusi, yang sederhananya salah satu benefitnya adalah dapat mengurangi menetapnya celah keamanan yang mana dapat di-eksploitasi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Namun yang bersumber terbuka hanyalah Signal Protocol nya saja, bukan layanan WhatsApp itu sendiri. Yang berarti, kita tidak bisa tahu apakah WhatsApp masih menggunakan teknologi yang sama ataupun ternyata menyisipkan 'backdoor' yang meskipun pihak Signal membantah teknologi mereka dapat disisipi itu.

Karena sederhana: Teknologi mereka tidak terbuka ke publik.

Sedangkan salah satu tujuan dari teknologi bersumber terbuka adalah tentang membangun kepercayaan.

Dan masihkah anda percaya dengan WhatsApp setelah mereka memperbarui kebijakan privasinya dan terlebih anda harus setuju dengan perubahan tersebut?

Mengapa ini penting?

Hak atas privasi merupakan hak individu yang fundamental bagi setiap orang.

Beberapa mungkin tidak peduli ketika nomor telepon mereka (dan nomor telepon yang berada di kontak mereka) dibagikan kepada Facebook, namun beberapa peduli karena alasan yang mereka miliki dan yakini.

Data yang dibagikan tersebut bersifat sensitif karena bagian dari data pribadi yang mencerminkan 'siapa diri kita'. Dengan membagikannya ke Facebook, secara tidak langsung, pengguna WhatsApp adalah pengguna Facebook juga yang meskipun secara teknis itu sudah terjadi pasca akuisisi yang terjadi pada 2014 silam.

Namun yang sekarang lebih gamblang, lebih berani, dan lebih rakus.

Banyak alasan mengapa beberapa orang membenci Facebook, silahkan bisa coba cari sendiri berita terkait #deletefacebook, yang jika alasan pribadi penulis adalah karena Facebook sudah terlalu banyak mengetahui informasi terkait penggunanya, dan terus merasa tidak puas untuk mendapatkan data/informasi yang lebih banyak lagi.

Perusahaan periklanan seperti Facebook akan terus mengikutimu di internet, yang mana sering disebut dengan Trackers. Ia ingin mengetahui aktivitas apa saja yang anda lakukan di internet, dari situs yang dikunjungi; lokasi tempat anda berada sekarang, terdaftar di layanan mana saja, dll sekalipun anda sedang berada diluar Facebook.

Dan itu mengerikan.

Apakah ada yang senang dikuntit akan setiap aktivitas yang kita lakukan?

Dalam konteks ini, Facebook ingin mengetahui dengan siapa anda berkomunikasi; siapa yang terhubung dengan anda, dan kapan saja anda aktif di WhatsApp, untuk sebuah kepentingan.

Dan semoga hanya itu saja.

Untuk apa mereka melakukan itu?

Apalagi jika bukan untuk keuntungan, sebagaimana tujuan dari terbentuknya sebuah perusahaan laba?

Bagaimana jika...

...kita bisa menghentikan apa yang Facebook sedang lakukan?

Facebook sudah mengetahui banyak data pribadi tentang kita, untuk kepentingan laba. Kita hanyalah kumpulan data yang dijual ke pengiklan untuk mendapatkan laba.

Dan itu tidak adil. Karena privasi adalah hak, bukan sesuatu yang dapat diperjual belikan, untuk meraup keuntungan.

Yang sayangnya, opsi mata uang di layanan ini hanyalah data.

Tidak ada yang lain.

Mungkin jika WhatsApp menawarkan 'layanan premium' dengan membebankan biaya ke penggunanya dengan catatan data pribadi pengguna tidak dibagikan ataupun diperjual belikan sekalipun ke perusahaan induk (yang terlebih perusahaan induk tersebut adalah perusahaan periklanan), mungkin tulisan ini tidak akan terbit.

Salah satu alasan utama juga mengapa tulisan ini terbit adalah karena saya pribadi sebagai penulis, peduli. Jika anda tetap menggunakan layanan yang diberikan oleh WhatsApp, secara tidak langsung anda mendukung apa yang WhatsApp (dan Facebook) lakukan, yakni menggunakan data pribadi untuk diperjual-belikan.

Dan ini bukan "langkah mundur" untuk industri periklanan.

Ada banyak cara untuk membantu pelaku bisnis—di berbagai skala—mendapatkan pelanggan melalui media bernama iklan ini tanpa harus menambang data pribadi milik pengguna, dan tanpa menggunakan data yang mencerminkan seseorang tersebut.

Ya, mungkin saja kita dapat mengisi informasi palsu akan data pribadi yang 'dipaksa' untuk dibagikan demi keberlangsungan layanan, namun tunggu sampai mereka 'memaksa' anda untuk memberikan data asli anda seperti nomor telepon, kartu kredit/debit, akun bank, dan mungkin sampai ke kartu tanda penduduk ataupun surat izin mengemudi :)

Dan sekarang, kami ingin memperkenalkan sebuah aplikasi bernama Signal oleh Signal Foundation.

Signal Foundation adalah perusahaan non-profit atau organisasi 501(c)(3) yang menawarkan layanan perpesanan instan seperti WhatsApp, yang mengembangkan teknologi (E2EE) yang digunakan oleh WhatsApp (dan layanan perpesanan lain juga), dan kabar baiknya adalah teknologi yang digunakan ber-sumber terbuka.

Dari client (aplikasi) sampai ke server yang menangani aktivitas yang terjadi dari/di aplikasi tersebut.

Meskipun Signal adalah perusahaan yang beroperasi di Amerika Serikat, namun tidak ada data yang terkait dengan anda yang disimpan di server Signal. Yang maksudnya, jika 'pihak yang berwajib' ingin mengetahui data terkait aktivitas anda di Signal (berdasarkan nomor telepon anda), Signal hanya bisa memberikan data terkait:

  • Kapan akun tersebut dibuat
  • Kapan terakhir kali akun tersebut aktif

Karena:

  • Pesan tidak disimpan di server Signal
  • Pesan yang dikirim/diterima oleh/dari pengguna dalam bentuk ter-enkripsi
  • Tidak ada metadata yang disimpan di server Signal, hanya waktu pembuatan akun dan terakhir aktif
  • Profil ter-enkripsi secara end-to-end, yang mana hanya dapat diketahui oleh kontak

Sebagai catatan, Signal mendukung Reproducible Build yang sederhananya untuk memverifikasi bahwa aplikasi Signal yang didistribusikan (di App Store/Play Store) adalah berasal dari sumber kode sama yang terbuka tersebut. Selama tulisan ini diterbitkan, dokumentasi terkait reproducible build hanya dapat dilakukan di Signal untuk Android yang dapat dibaca disini.

Tidak ada perbedaan yang signifikan antara WhatsApp dan Signal, hanya:

  • Belum ada 'fitur Story' alias Status, yang semoga tidak ada.
  • Signal bersumber terbuka, dari aplikasi sampai ke server.
  • Signal didanai oleh donatur sedangkan WhatsApp oleh perusahaan laba yang bergerak di industri periklanan
  • Signal dioperasikan oleh Signal Foundation, bukan F A C E B O O K.

Advokasi versi evilfactorylabs

Pasti ada dua kategori pengguna dalam teknologi: Pengguna tingkat lanjut dan pengguna awam.

Pengguna tingkat lanjut ini biasanya yang tahu/mengetahui terkait hal-hal teknis, seperti mengetahui tentang e2ee; privasi di dunia digital, dan mungkin seseorang yang disebut 'geek' namun yang bukan mengacu ke penggemar film.

Pengguna awam ini biasanya yaa... yang menggunakan sebagaimana fungsinya saja. Seperti, tidak perlu mengetahui apa itu e2ee, yang mereka ketahui mungkin cukup ke 'komunikasi yang aman' saja.

Baik, untuk pengguna tingkat lanjut, mungkin bisa baca tulisan ini dari awal sampai akhir. Dan semoga membantu!

Untuk pengguna awam, bisa dengan memberitahukan bahwa:

  • Mulai Februari 2021, WhatsApp sudah tidak gratis. Secara teknis ini benar, karena pengguna membayar ke Facebook (namun dengan mata uang berbentuk data pengguna di WhatsApp).
  • Dan juga, data terkait kontak & nomor telepon akan diberikan ke Facebook. Yang berarti, secara tidak langsung, Facebook akan tahu kita terhubung dengan siapa saja di WhatsApp, sekalipun kita tidak menggunakan Facebook
  • Terakhir, data kita akan digunakan untuk kepentingan iklan. Karena Facebook adalah perusahaan penyedia iklan, dan pastinya tidak mungkin jika data tersebut bukan digunakan untuk itu.

Sebagai catatan tambahan, bisa memberitahukan juga bahwa bila misalnya suatu saat server Signal kena hack, data yang didapat oleh hacker kurang lebih seperti ini:

Sumber

Dan bisa dengan menambah ini juga, sebagai gambaran data apa saja yang dikumpulkan oleh Signal/iMessage/WhatsApp/Facebook Messenger yang berkaitan dengan data pribadi penggunanya:

Sumber

Jika memiliki cara lain dalam melakukan advokasi khususnya ke pengguna awam, please let us know!

Penutup

Tulisan ini cukup panjang dan sayangnya bukan bersifat panduan yang sesungguhnya.

Namun ini adalah langkah awal kami dalam melakukan advokasi terkait bagaimana cara migrasi dari WhatsApp ke Signal, khususnya kepada keluarga besar yang relatif pengguna awam.

Dalam melakukan advokasi tersebut, kami yakin bahwa kami tidak bisa berjalan sendiri terlebih karena bedanya kondisi yang ada di setiap lingkungan. Karena itu, kami mencoba untuk menjelaskan terkait fundamental tentang apa yang kami yakini, dan berbekal informasi tersebut, anda bisa menggunakannya untuk melakukan 'advokasi' kepada lingkunganmu, dengan cara anda sendiri, berdasarkan apa yang diyakini oleh evilfactorylabs dan khususnya oleh anda.

Ini baru tahap awal dan kami sedang melakukan riset lebih lanjut untuk dapat melakukan aktivitas advokasi dengan cara yang lebih singkat; jelas, padat, dan mudah, untuk siapapun.

Dan selama anda disini, jika berkenan, silahkan bagikan tulisan ini ke lini masa media sosialmu. Ke grup WhatsApp. Ke kerabat, orang terdekat, dan mungkin keluarga besar.

Kami bukan mengemis traffic, tidak ada iklan yang ditampilkan di situs ini dan yang paling penting: kami tidak peduli dengan angka traffic. Yang kami peduli hanyalah manfaat dan dampak, dan jika penasaran bagaimana kami mengukur itu, silahkan bisa pelajari di halaman Why support us?

Terima kasih!

Salam,

—evilfactorylabs